Aurora Melodious |
Karena bercerita tentangmu seperti merangkai partitur dalam sebuah lagu |
Pada dasarnya, semua hanya tentang pencarian jalan yang tepat saja. Dan barangkali saya sedang terjebak dalam tempat persinggahan yang salah. Adalah suatu kewajaran jika saya patah, bahkan mungkin cukup parah. Namun, adalah suatu kebodohan ketika saya masih berjalan di tempat seraya berharap bahwa fakta yang ada hanyalah fatamorgana belaka. Beruntung Tuhan masih mengizinkan saya untuk menangis dan merengkuh sepuas hati.
Setelah ini, saya akan memutar jalan dan kembali. Mereguk tawa beriringan dengan sambutan hangat dunia. Dunia yang saya buat sendiri. Tanpa unsur kamu di dalamnya. Sedikit pun, setitik pun.
- Selasa, 1 Mei 2012. Kuliah terakhir mata kuliah Agama.
Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.
Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal…
via @melaninuneno (via theheartbook)
(Source: superzupper, via elvinadiah)
Coba coba katakan kepadaku bahwa kita sedang berjalan menuju satu alasan
Janganlah kau katakan bila kita memang tak ada tujuan dari apa yang dijalankan
Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
Coba coba katakan kepadaku sekali lagi bila kita memang benar akan kesana
Buktikan dan buat aku percaya bahwa kita bisa mewujudkan bahagia
Habis sudah semua rangkai kata
Telah terungkap semua yang kurasa
Yang kuingin akhir yang bahagia
Yang ku inginkan
Satu tujuan
Sebuah kenyataan
Bukan impian
Bukan harapan
Bukan alasan
Satu kepastian
Coba katakan
aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan rambut kelimis disisirkan ibu
dan baju seragam yang agak bau keringat hari rabu
aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan lidah cadel dan kepala agak miring ke kanan
—yang kuhafal secara lengkap hampir tanpa kesalahan
aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan setiap saat dengan kaki-kaki kecil penuh semangat
mengentak lantai—meski kadang sumbang, kadang salah ketukan
aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kuiringi dengan pukulan-pukulan kecil di bangku
sekolah yang tua dan rapuh, sambil menunggu giliran dipanggil guru
dengan dada berdebar, seperti dada pencuri tertangkap radar
aku ingin mencintaimu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana
—yang hanya meminta dirinya dinyanyikan
: itu saja!
Curhat Setan, 2009
Kepadamu, penuh kebencian.
Aku benci sembunyi – sembunyi memperhatikan dirimu. Aku benci tersenyum sendiri ketika kau bertindak bodoh. Aku benci menebak – nebak tiap kata yang kau lontarkan untukku… yang kadang membuatku semakin berharap. Aku benci melihatmu ynag tersenyum saat membaca SMS… entah dari siapa. Aku benci menahan rasa ketertarikan ini kepadamu. Aku benci diam – diam menghafal suaramu. Walau hanya ‘Hmmmm..’ dan aku benci meredam letupan emosi saat suara itu, berbunyi namaku.
Aku benci saat kita bersinggungan. Kontak fisik denganmu hanya membuatku semakin berharap. Dan aku benci untuk mengartikannya. Apa itu sebagai tanda atau hanya sentuhan tidak sengaja tanpa ada rasa? Aku benci mengetahui fakta lain tentang dirimu. Aku benci terus – terusan memikirkanmu tanpa ada kepastian. Aku benci mengarang cerita kita dalam khayalan. Aku benci salah tingkah saat mata kita bertemu. Lalu kau tertawa.
Aku benci salah mengartikan kebaikanmu. Aku benci saat membalas SMSmu. Merangkai kata dengan hati – hati hingga sempurna. Aku benci membuatmu tertawa. Aku benci menjadi lunak didepanmu. Aku benci memperhatikan detailmu. Detail yang kusimpan seperti kepingan puzzle. Hingga kelak membentuk figure dirimu yang kukenal.
Aku benci bersusah payah mencari cacatmu, keburukanmu. Meski mungkin kau bisa saja sempurna. Aku benci bertanya – tanya. Aku benci berandai – andai. Aku benci mengetahui kau ada. Kalau kau ada yang punya. Logika berontak menghalangi hati. Tapi hati mati – matian membela diri. Aku benci kehilangan, walau belum memiliki. Aku benci bersamamu, saat kau tidak peka. Aku benci mencintaimu. Aku benci mencintaimu diam – diam begini. Aku benci berpura – pura tak peduli. Aku benci dirimu. Demi Tuhan aku benci jatuh cinta padamu.
(Source: thesilentheartbeat, via kuntawiaji)
Merakit sebuah kisah. Mengejar matahari pagi diantara gelitikan rerumputan. Menjejak batuan dan karang. Kaki mengisyaratkan untuk berhenti sebentar. Menikmati kenikmatan yang tersebar di pelupuk mata. Sekali kedip, sekumpulan buih menyergap ingatan. Di dalam ombak-ombak laut yang bermuara, ada relung yang menggebu. Adalah rindu yang menyuarakan kesunyian. Untukmu yang tak tergenggam bagai pasir di telapak tangan. Sebuah pulau dimana aku ingin berteduh. Karena bersamamu, bagai menemukan matahari di ujung senja. Tak ada lagi yang harus kukejar.
Pantai Santolo, 17 Januari 2012
Menatap sepotong kue kuning.
Gigitan pertama, sapamu.
Gigitan kedua, matamu.
Gigitan ketiga, auramu.
Aku terus menggigit, lalu darah keluar dari sudut bibir.
Sial, kue sudah habis!
Indahmu bukan lukaku, kan?
Garis-garis gerimis menggoreskan cerita di jendela.
Tentang cinta,
harapan,
dan realita.
Tik..
Gerimis pertama mengandung lirik cinta. Tentang nikmat Tuhan yang tidak dapat terbantahkan. Jatuh cinta. Lagi. Tapi kali ini cukup mencinta, tidak sampai terjatuh.
Tik.. tik..
Gerimis kedua mendatangkan sekumpulan harapan. Tentang surat-surat yang belum terjawab dan doa-doa yang terkesan memaksa agar segera dikabulkan. Akhirnya hanya menyisakan aliran air yang belum bermuara di jalanan beraspal.
Tik.. tik.. tik..
Gerimis ketiga mengingatkan akan sebingkai realita. Tentang sebuah anugerah dan kemustahilannya. Tentang persiapan sebelum nada-nada menjadi berserakan dan kemungkinan interval sekunde berubah menjadi interval terts. Tentang datangnya seikat pelangi atau bahkan siklon trofis. Kemudian ada bisikan pepatah “Sedia payung sebelum hujan.”
Lalu tempo gerimis semakin lambat, dan menghilang.
Cerita sudah habis.
Hati ini kugenggam, diantara deretan tak bernyawa.